Kabupaten Sumbawa Barat

Saya di Scareef

Saya di Scareef

Inilah persiapan perjalanan tercepat yang pernah saya lakukan. Dikonfirmasi siang harinya, keesokan paginya sudah harus berangkat. Bahkan si pengundang baru menghubungi saya malam harinya. Tujuannya: Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Yang mengundang: Kemenbudpar.

KSB memang asing bagi para wisatawan, namun tidak begitu asing bagi mereka yang mengikuti berita. Karena dalam beberapa bulan terakhir rame diperbincangkan soal mogoknya karyawan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), perusahaan tambang emas dari Amerika itu.

Meski sekarang mogok sudah reda, faktanya tetap memprihatinkan: bahwa dari 15 triliun pendapatan newmont setahunnya, royalti yamg diberikan ke daerah hanya 98 miliar atau dibawah 1 persen. Jadilah sumbawa tetap pulau yang miskin warganya.

Jikalau pulau Sumbawa, khususnya KSB asing dari wisatawan lokal dibandingkan Lombok atau Komodo, bukan karena tidak ada yang dilihat. Pantainya sangat elok, para surfer diseluruh dunia datang mencari ombak dengan tube sempurna, ada juga gua serta panorama bawah air yang cantik dan bahkan lebih perawan dari Lombok.

Sayangnya yang menjadi kendala popularitas pulau ini adalah klise: yakni akses yang sulit dicapai. Saya, bersama media dari Jurnas, Indopos, SCTV serta rombongan Kemenbudpar merasakan sulitnya menuju kesana dengan overland (jalur darat dan menyebrang antar pulau).

Pertama kita terbang jakarta-mataram. Setelah itu, kita membelah pulau Lombok ke arah ujung timur di pelabuhan Kayangan. Waktu tempuhnya 4 jaman. Itupun kami capai menggunakan foridjer. tambahkan ekstra 45 menit jika pakai bis.

Dari pelabuhan kayangan rombongan menggunakan feri ke KSB, tepatnya di pelabuhan Poto Tano di Sumbawa barat selama 1,5-2 jam. Ternyata, masih ada 1.5 jam lagi ke tempat yang akan kita tuju di ktb: yakni hotel Grand Royal Taliwang yang terletak di ibukota KSB : Taliwang.

Mengapa hotel yang cuma bintang tiga ini harus diresmikan oleh seorang dirjen? karena, inilah satu-satunya hotel bintang tiga di pulau sumbawa. Bahkan, inilah satu satunya hotel di pulau yang jarak dari ujung barat ke ujung timur mencapai 450 km itu.

Praktis, inilah investasi luar pertama yang masuk ke sumbawa selain pt newmont, dan diharapkan dapat menjadi awal bertumbuhnya investasi di sumbawa.

Pemilik hotel itu, Alim Sugiantoro, adalah pengusaha asal Tuban. Dia disebut-sebut orang yang yang nekad. Nekad karena membangun hotel senilai rp55 miliar di tanah tandus yang nyaris tak tersentuh kecuali oleh PT NTT. Ternyata, karyawan PT NTT 4000 orang itulah yang menjadi target market utama Alim. Karena itu lokasinya berada di pusat kota taliwang yang berdekatan dengan PT NNT, bukan di dekat kawasan wisata.

“Dengan akses transportasi yang belum memadai, bussines traveler memang menjadi segmen utama kami. Mereka datang kesini karena mengejar uang. Sedangkan traveler tidak akan mau menghabiskan uangnya ditempat yang aksesnya susah dan belum tergarap dengan baik,” ujarnya kepada saya.

Anyhow, pantai-pantai di Sumbawa, khususnya KSB, sebenarnya tidak kalah cantik dengan Lombok. Pantai-pantai disini sangat populer dikalangan peselancar internasional. ”70 persen dari komunitas selancar dunia yang berjumlah 30-an juta orang sudah pernah mendengar soal keunikan ombak di Sumbawa,” klaim Cahyo Karyadi, seorang peselancar lokal kepada saya.

Scareef, Super Suck, Donut, dan Yoyo’s adalah nama-nama yang diberikan para peselancar untuk mendeskripsikan ombak di pantai Sekongkang, Maluk, serta Jelengah. Julukan Scareef, misalnya, diberikan karena kondisi pantai yang cetek dan penuh karang tajam.

Selain pesisir pantai, pedalaman KSB juga menawarkan lokasi wisata alam potensial. Di Kecamatan Seteluk ada wisata pendakian ke Desa Mantar yang berada di ketinggian 600 meter diatas permukaan laut. Desa yang dihuni 1.500 orang itu juga menjadi lokasi syuting film Serdadu Kumbang yang disutradarai oleh Ari Sihasale.

Sayang sekali, KSB yang alamnya sangat potensial dikembangkan untuk wisata ini tidak tergarap dengan baik hanya karena pemdanya kurang gigih dan kreatif dalam mengajak investor membuat jalur transportasi, utamanya pesawat. Padahal, jika sektor wisata sudah tertata dengan baik, maka semua juga untung. Pemda untung karena pendapatan asli daerah (PAD) meningkat, dan masyarakat juga untung karena turis membawa cash money yang kabarnya minimal USD1000 per kunjungan (turis mancanegara).

Sewaktu mengikuti rombongan Kemenbudpar ini saya jadi menyadari bahwa optimalisasi potensi daerah itu ya tergantung dari pemdanya. Dari bupati, sampai gubernur. Seperti yang dikatakan Dahlan Iskan, jikalau bupatinya kreatif dan pintar, maka ia akan jeli untuk mengolah potensi yang ada di daerahnya. Termasuk, misalnya menertibkan pedagang liar, menarik investor untuk membuat hotel, dan lainnya.

Yang saya lihat, ada bupati yang memang benar-benar tidak tahu harus ngapain dan menggantungkan diri pada pemerintah pusat. Tapi, ada juga bupati yang memang visioner, kreatif, dan punya ide-ide bagus, tapi sayangnya eksekusi di lapangannya tidak terkunjung terasa.

Pelabuhan Poto Tano, KSB

Pelabuhan Poto Tano, KSB

Awan cantik di KSB

Awan cantik di KSB

Saya di kapal feri

Saya di kapal feri

Sunset di tengah laut

Sunset di tengah laut

Suasana penginapan di Scareef

Suasana penginapan di Scareef

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s