Review HTC Evo 3D

HTC Evo 3D. Foto : Tobo

HTC Evo 3D. Foto : Tobo

HTC Evo 3D sudah mendarat di meja saya sepekan sejak dikenalkan di Jakarta akhir Oktober silam. Saya sengaja meminta @teekoreo, teman yang berkerja di Agrakom agar lebih cepat mengirimkan produk tersebut untuk diulas karena rasa penasaran.

Penasaran untuk mencoba fitur 3D di smartphone itu. Yang untuk mendapatkan kesan kedalaman (stereoskopik) di layarnya pengguna tidak perlu lagi menggunakan kacamata.

Kacamata sebagai syarat menonton 3D di TV atau bioskop itu memang dikritik tidak nyaman dan mengganggu. Apalagi kalau harus memakai kacamata untuk melihat foto atau gambar di layar smartphone yang cuma 4,3 inci.

Karena itu, para engineer di HTC bekerja keras untuk membuat mata telanjang manusia bisa mengenali gambar 3D tanpa adanya alat bantu. Mereka menggunakan alat yang disebut penghadang paralaks dan diletakkan di balik layar LCD. Alat tersebut berfungsi untuk ”menipu” mata kiri dan kanan manusia agar seolah-olah melihat dua gambar berbeda.

Namun, teknologi yang juga digunakan oleh Nintendo 3DS dan LG Optimus 3D itu ternyata punya kekurangan yang cukup mengganggu. Posisi mata kita dan ponsel secara horizontal harus berada di titik yang tepat. Jika melenceng beberapa milimeter saja, gambar atau video 3D yang sedang dilihat menjadi berbayang dan membuat mata sakit.

Kekurangan lainnya, kualitas visual game 3D di HTC Evo 3D menurun jauh. Detil bodi mobil, jalanan, serta latar belakang pada game Need For Speed Shift (NFS) 3D, misalnya, berkurang drastis.

Ketika bermain, kedua mata saya juga dipaksa bekerja keras untuk terus menerus fokus. Sekali lepas fokus, efek 3D akan hilang. Lepas fokus mudah terjadi karena obyek mobil pada NFS Shift ini memiliki pergerakan cepat dan dinamis. Karena itulah, mata menjadi mudah lelah. Saya hanya mampu bertahan 2,5 menit memainkan NFS 3D. Wahyu, teman saya, mampu bertahan 4 menit sebelum pandangan jadi tidak nyaman.

Game lainnya, The Sims 3D, lebih enak dimainkan. Salah satunya karena efek 3D di game itu bisa diatur besarannya. Ternyata, ketika memainkan game ini saya lebih banyak menonaktifkan efek 3Dnya lagi-lagi karena alasan mata lelah. Karena itu, kesimpulan saya, game 3D ternyata tidak untuk setiap orang. Paling tidak, bagi saya, dan beberapa teman yang berpendapat serupa.

Keunggulan terbaik untuk fitur stereoskopik ini menurut saya justru ada pada gambar atau foto. Disinilah efek 3D bisa dirasakan dengan ”sempurna”. Cukup mengagumkan melihat gambar bunga yang seolah-olah terpisah dengan dedaunan dan pohon yang menjadi latar belakangnya.
Tapi, melihat gambar 3D ternyata juga butuh waktu. Butuh beberapa detik untuk mendapatkan posisi yang tepat. Beberapa teman saya berbeda-beda dalam mendapatkan efeknya. Ada yang cepat, tak sedikit pula yang cukup lama.

Saya yang sudah mulai terbiasa rata-rata butuh 3-4 detik untuk bisa mendapatkan sudut pas antara mata dan ponsel. Selain mengonsumsi konten 3D, HTC Evo 3D juga memungkinkan pengguna untuk memproduksi foto atau video 3D. Ada dua lensa yang letaknya cukup mencolok di punggung ponsel.

Saya mengabadikan beberapa foto 3D yang meski goyang, tapi ternyata masih terasa efek kedalamannya. Namun, ketika merekam video 3D dalam kondisi pencahayaan minim, hasilnya video yang berbayang dan sama sekali tidak bisa ditampilkan efek kedalamannya.

Selama mencoba smartphone ini saya tidak merasa fitur 3D sebagai sesuatu yang istimewa dan ingin digunakan terus menerus. Melainkan lebih pada fitur tambahan yang asyik jika dipakai, tapi tidak ada pun tidak apa-apa.

Tapi, bukan berarti 3D ini dimasa mendatang tidak akan berkembang. Ekosistemnya mulai terbentuk. YouTube kini menyediakan fitur bagi pengguna untuk mengkonversi videonya menjadi 3D. Secara viral, bertukar-bagi foto 3D juga bisa menyebar luas melalui berbagai forum ataupun layanan foto sharing lainnya.

Foto 3D bahkan bisa dicetak, karena Fuji Film sudah memiliki teknologi kertas yang dapat menampilkan foto stereoskopik.
Selanjutnya yang ditunggu adalah sejauh mana, dan secepat mana adopsi pengguna terhadap fitur 3D ini? Menurut saya sendiri 3D akan tetap menjadi fitur yang niche, digemari kalangan tertentu saja. Seperti halnya Lomografi.

Dua lensa untuk menghasilkan gambar 3D

Dua lensa untuk menghasilkan gambar 3D

Tentang iklan-iklan ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s