Asus ViVobook TouchScreen S400, Menikmati Dua Macam Interaksi

54714_X202E-CT025H

ViVobook keluaran Asus memiliki layar yang bisa disentuh untuk memaksimalkan penggunaan Windows 8.

Secara tidak langsung Windows 8 ”memaksa” pengguna merubah cara penggunanya berinteraksi dengan sebuah notebook. Tidak lagi tergantung pada bantalan sentuh (touchpad) ataupun tetikus (mouse). Melainkan juga melalui sentuhan di penampang layar.

Inilah yang saya rasakan ketika pertama kali menggunakan Asus ViVobook TouchScreen S400. Ketika vendor lain berusaha keras untuk hadir dengan desain convertible, Asus memilih cara konvensional: ViVobook S400 adalah notebook yang memiliki layar yang bisa disentuh-sentuh.

Salah satu alasan mengapa para vendor membuat laptop dengan desain baru (convertible) adalah adanya anggapan bahwa laptop berlayar sentuh tidak akan sukses.

Hal itu dikemukakan langsung oleh mendiang Steve Jobs. Mantan orang nomer satu di Apple itu menyebut notebook berlayar sentuh “secara ergonomis akan mengerikan”. ”Kami sudah melakukan ribuan pengetesan. Kesimpulannya, layar sentuh tidak di desain untuk digunakan secara vertikal. Setelah beberapa lama, lengan Anda akan terasa sangat lelah,” papar Jobs suatu waktu.

Apa yang dikatakan Jobs memang benar. Berinteraksi dengan penampang sentuh secara vertikal dalam waktu lama membuat tangan cepat pegal. Karena itu, interaksi sentuh tidak dilakukan terus menerus.

Selama dua pekan lebih mencoba ViVobook S400, yang saya lakukan adalah melakukan kombinasi interaksi. Yakni menggunakan touchpad dan sentuhan layar atau mouse dan sentuhan layar.

Ternyata untuk satu dan lain hal, menjalankan fungsi tertentu bisa dilakukan lebih cepat dengan menyentuh layar. Misalnya saat berganti-ganti moda dari Live Tiles ke desktop. Dibanding mengarahkan pointer ke kotak ikon ”desktop”, lebih mudah untuk menyentuhnya langsung.

Hal itu juga berlaku saat saya harus menyentuh ikon yang letaknya ada di ujung layar. Effort-nya beda tipis antara mengarahkan jari ke touchpad atau mouse dengan menyentuh langsung ikon menu yang dituju ke layar.

Tentu saja saya juga bisa melakukan hal-hal lain yang dulunya tidak mungkin dilakukan dengan notebook berlayar non sentuh. Misalnya menyentuh-nyentuh layar untuk bermain game, menggambar di Paint, mengedit foto di Adobe Photoshop, dan masih banyak lagi.

Sekali lagi, untuk satu dan lain hal, ternyata sangat menyenangkan memiliki notebook dengan layar yang bisa disentuh!

Moderat

ViVobook TouchScreen S400 adalah satu dari beberapa rangkaian keluarga ViVobook (laptop berlayar sentuh) keluaran Asus. Seri lain yang dipasarkan di Indonesia adalah S200 dengan perbedaan pada ukuran layarnya yang 11,6 inci. Harganya sendiri dibanderol USD479 (dengan prosesor Intel 847 dual core) dan USD599 (Intel Core i3-3217U).

Masih ada satu anggota keluarga lain, VivoBook U38, yang bertenagakan prosesor AMD Trinity. Sayangnya, model tersebut baru akan diluncurkan ke Indonesia dalam waktu tak lama lagi.

ViVobook S400 yang saya gunakan memiliki banderol Rp6,8 juta,menyasar pasar paling padat di notebook Indonesia yang berada di angka Rp6 juta kebawah. Anggap saja kelebihan Rp800 ribu itu sebagai kompensasi layarnya yang bisa disentuh-sentuh.

Dari sisi desain, ViVobook S400 cukup manis. Kombinasi warna alumunium dengan touchpad yang besar serta bezel layar hitam 13,3 inci-nya memperkuat kesan elegan dan mewah. Bagian luar kovernya menggunakan warna hitam bercorak.

Prosesor Intel Core i3-3217U serta memori DDR3 4GB memiliki performa yang cukup untuk bekerja maupun bermain game ringan. Layarnya sudah dibekali LED backlit, dengan perbandingan 16:9 HD (1366×768) untuk kenyamanan menonton film berdefinisi tinggi.

Untuk HDD, tersedia ruang sebesar 500 GB dan tambahan 24 GB SSD untuk menyimpan state sistem operasi ketika dalam keadaan tidur.

Seperti halnya ultrabook yang ada di pasaran saat ini, dimensi ViVobook S400 dengan sistem instant on 2 detik ini cukup kompak. Ukurannya antara lain 33.9cm x 23.9 cm x 2.1 cm dengan berat 1.40 kilogram.

Kelengkapan lainnya adalah audio SonicMaster yang bisa memancarkan suara sangat kencang untuk bermain musik dan game di speaker Bang Olufsennya, chicklet keyboard, 2-in-1 card reader, slot USB 2.0 dan 3.0, HDMI, serta garansi resmi Asus global selama 2 tahun.

Secara keseluruhan ViVobook S400 ditujukan bagi mereka yang mendambakan pengalaman baru terhadap ultrabook yang mereka miliki. Mereka yang terbuka terhadap perubahan dan penyesuaian, dan siap menerima kejutan terhadap caranya berinteraksi dengan sebuah notebook.

Bentuk perubahan interaksi itu, bisa jadi sangat berbeda antara satu orang dengan lainnya. Seperti saya, yang kurang lebih melakukan 40%-50% interaksi sentuh di ViVobook S400. Yang lainnya, bisa sangat berbeda. Mungkin ada yang hanya 10% saja, atau bisa jadi malah lebih dari 50%.

Yang pasti setiap orang akan mencari cara termudah dalam melakukan optimisasi Windows 8 dengan dua user interface-nya itu, serta dua bentuk interaksi yang ditawarkan oleh ViVobook S400.

Spesifikasi :

Asus ViVobook TouchScreen S400CA

Prosesor Onboard: Intel Core i3 3217UM-1.8Ghz.

RAM: 4GB DDR3 PC10600.

Layar : 13.3″ wide LED, dengan resolusi 1366 x 768 dan LED Backlight.

Tipe Audio : teknologi SonicMaster dengan speaker Bang Olufsen.

HDD: 24GB SSD + 500GB Serial ATA 5400 RPM.

Faktor unggul: Chiclet Keyboard, 2 -in-1 card reader ( SD/ MMC), USB 2.0 dan USB 3.0, LAN, HDMI, Audio, VGA.

Sistem operasi: Windows 8.

Baterai : 38 hrs Polymer Battery (Standby Position).

Berat: 1.40 kg.

Garansi : 2 tahun dari Asus Indonesia.

Harga : Rp 6,800,000.

About these ads

2 comments on “Asus ViVobook TouchScreen S400, Menikmati Dua Macam Interaksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s