Test Drive Mitsubishi Outlander Sport GLS 2.0 A/T, Definisi Ulang SUV Urban

SUV Urban Mitsubishi Outlander Sport memberi kesegaran di pasar SUV urban.

SUV Urban Mitsubishi Outlander Sport memberi kesegaran di pasar SUV urban.

Mitsubishi Outlander Sport langsung menjadi primadona di segmen compact crossover tak selang lama setelah diluncurkan. Jawabannya langsung saya temukan setelah berada di balik kemudinya.

Dua SUV ini sama-sama berkontribusi besar terhadap penjualan Mitsubishi di Indonesia: Mitsubishi Pajero Sport dan Mitsubishi Outlander Sport.

Sejak dirilis pada 2009 Pajero Sport mendapat respon sangat positif, terjual hingga 13.219 unit pada 2011 dan 12.004 unit pada 2012. Lewat tampang sporty, mesin galak, dan konfigurasi 7 penumpang, Pajero Sport terus mengekor Toyota Fortuner sebagai primadona di kelas family SUV.

Segmennya jelas: mereka yang berjiwa petualang namun tetap butuh ruang besar untuk menampung anggota keluarga. Kesuksesan Pajero Sport membuat PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB), pemegang merek Mitsubishi di Indonesia, semakin percaya diri. Pada Juli 2012 mereka melahirkan Outlander Sport yang ditujukan bagi eksekutif ataupun keluarga muda yang membutuhkan SUV dengan ukuran lebih kompak.

Jujur saja, tidak semua menyukai bodi Pajero Sport yang bongsor dan panjang itu. Begitupun dengan harganya yang termasuk tinggi.

Strategi PT KTB cukup jitu, Outlander Sport yang dirakit di pabrik di kawasan Cakung, Jakarta, itu memiliki banderol harga sangat kompetitif. Mulai Rp289 juta (versi GLX manual), Rp306 juta (GLS otomatis), dan Rp325 juta (RPX otomatis). Targetnya tak main-main: 10 ribu unit pada 2012.

Dan optimisme Mitsubishi pun berbuah manis. Outlander Sport langsung memikat perhatian pasar. Momennya tepat, karena permintaan terhadap compact crossover terus meningkat. Kompetitor seperti Mazda CX5 dan All New Kia Sportage juga mendapat respon positif. SUV diminati karena keinginan untuk mendapatkan mobil dengan postur tinggi dan tenaga besar, namun kenyamanan bak sedan.

Compact crossover memiliki dimensi lebih kecil dibanding SUV pada umumnya.

Ground clearance (jarak sasis dengan bagian terbawah roda), juga lebih rendah. Bayangkan mobil seukuran Toyota Rush dan Daihatsu Terios namun memiliki penampilan dan mesin yang jauh lebih baik.

Mitsubishi Outlander Sport 2.0 GLS bertransmisi otomatis yang saya coba ini adalah varian menengah. Dibandingkan versi tertinggi, PX, ada beberapa hal yang absen. Misalnya panoramic roof, lampu depan LED, ataupun paddle shift. Sisanya relatif sama. Begitu duduk di bangku kemudi, saya merasakan bagaimana SUV ini memang dilahirkan untuk kawasan perkotaan.

SONY DSC

Interiornya cukup mewah dan berkelas.

Baian interiornya cukup mewahLihat saja desainnya yang sangat modern. Grill depannya tak tegas dan sedikit mengintimidasi. Dari samping, mobil ini berlekuk sporty dan aerodinamis. Saya juga suka dengan kombinasi lambu belakangnya yang mempertahankan kesan sporty di bagian depan. Velg racing 17 inci membuatnya semakin terlihat galak.

Dapur pacu Outlander Sport bertenaga: mesin MIVEC 2.000 cc 4 silinder segaris, mampu menyemburkan tenaga hingga 150 dk pada putaran mesin 6.000 RPM transmisi 6-speed CVT INVECS II. Artinya, mobil seberat 1.405 kilogram ini masih terasa nyaman untuk berakselerasi di tol ataupun menyalip dengan cepat di jalanan Puncak yang sempit dan menanjak.

Tentu saja, saya bisa memanfaatkan transmisi semi otomatis triptronic untuk memindah-mindah gigi dan mendapatkan putaran mesin sesuai keinginan.

Di bagian interior, dominan dengan warna hitam. Mitsubishi memang punya masalah untuk menghadirkan kesan elegan pada interior. Termasuk juga pada Pajero Sport dan Lancer EX GT 2.0. Untunglah, layar MID sentuh yang ada sendiri lumayan memberi sentuhan mewah.
Kabinnya sendiri cukup nyaman untuk penumpang depan. Meski, dibagian belakang kurang begitu lega. Maklum, Outlander Sport hanya memiliki panjang dan tinggi 4.295 mm dan 1.625 mm.

Kekurangan lain yang saya rasakan adalah suara mesin yang masuk kategori berisik untuk ukuran mobil yang minum bensin. Ini cukup mengganggu. Selain itu, suspensi MacPherson sturt, coil spring dengan stabilizer bar milik Outlander Sport ini juga terasa stiff atau lumayan keras. Terutama saat saya mencobanya di jalanan berbatu dan tidak rata. Tubuh jadi berguncang-guncang.

Tapi selain dua itu, Outlander Sport sudah sangat prima. Termasuk juga handlingnya, ataupun radius putar yang tidak menyulitkan. Dan jangan lupa, tipe GLS telah mengaplikasikan power steering elektrik, AC climate control, serta fitur pengaman lengkap seperti ABS+EBD+BA dan dual airbags. Begitupun sensor parkir, keyless entry, dan jok kulit.

SONY DSC

Tampak belakang tetap sporty

Spesifikasi Mitsubishi Outlander Sport 2.0 GLS (A)
Kapasitas Mesin:1998 cc
Tipe Mesin: 4-Silinder Segaris, 16-Katup, DOHC, 4B11 MIVEC
Rasio Kompresi: 10
Diameter X Langkah :(86.0 x 86.0) mm
Tenaga:150 bhp
Torsi :197 Nm
Tipe Kendaraan:SUV
Dimensi (L x W x H):(4295 x 1770 x 1625) mm
Jarak Sumbu:2670 mm
Min Turning Radius:5300 mm
Berat Kosong:1405 kg
Kapasitas Tangki: 63 L
Rem (Depan):16″ Cakram Berventilasi
Rem (Belakang):16″ Tromol Dalam Cakram
Suspensi (Depan) : Machperson Strut, Coil Spring With Stabilizer Bar
Suspensi (Belakang) : Multilink, Coil Spring With Stabilizer Bar
Harga: Rp306 juta

Tentang iklan-iklan ini

One comment on “Test Drive Mitsubishi Outlander Sport GLS 2.0 A/T, Definisi Ulang SUV Urban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s